KEMBALILAH KE ALQURAN SEBAGAI MINHAJUL HAYYAH

ust. M. Shodiq“Menjadikan Alquran sebagai Minhaajul hayyah (Pedoman Hidup) adalah sebuah keharusan bagi muslim Indonesia agar bangkit dari keterpurukan” Demikian dikatakan Ust. Muhammad Sodiq di acara Liqo Gabungan, yang merupakan rangkaian Ansyitoh Ramadhan, DPC PKS Sukajadi kota Bandung (ahad, 12/06/2016).

Bertempat di Graha Sejahtera jl. H. Yasin 36 Kota Bandung, liqo gabungan dimulai pukul 10.00, setelah diawali dengan tilawah bareng yang dikomandoi oleh Ust. Sumitra Abu Zaky.

“Alhamdulillah, peserta cukup banyak, dan yang hadir kali ini datang dari 7 group halaqoh ikhwan dan akhwat, yang ada di Sukajadi”. Demikian ungkap ust. Asep Rohmat sebagai ketua penyelenggara liqo gabungan ini.

Materi yang disampaikan ustadz M. Shodiq ini bertujuan mengajak jamaah, agar senantiasa mencontoh bagaimana Ashabul awalun dalam perlakuan terhadap Alquran, dimana kekhasan mereka selalu “sami’na Wa atho’na” atas apa yang disampaikan Rosululloh.

Beliau mencontohkan 3 riwayat, tentang ghiroh sahabat kala mendengar perintah dari Alquran.

1.Ketika Rasululloh menyampaikan larangan khamr (miras), para sahabat langsung menumpahkan khamrnya. Tak peduli berapa harganya, baik yang produksi atau yang konsumsi. Padahal khamr merupakan yang sangat digandrungi kaum Arab pada saat itu. Sampai-sampai ada penyair yang menggubah syairnya seperti ini,
“Wahai kalau aku mati, kuburkanlah aku di bawah pohon anggur, agar tulang-tulangku bisa merasakan nikmatnya buah anggur”
Syair itu melambangkan cintanya orang Arab pada khamr, tapi begitu datang ayat pelarangan, mereka langsung menuruti titah Rasulullah.

2. Ketika turun ayat wajibnya menggunakan busana muslimah, maka serta merta mereka menarik segala yang ada, walaupun gordyne atau seprei tempat mereka tidur. Tapi demi kecintaannya pada Alquran mereka langsung melaksanakan.

3. Kisah pengantin baru “Sahabat Hanzhalah”, di tengah mereguk manisnya bulan madu, lalu Rasulullah datang ke depan rumahnya sembari mengutip dua ayat dari QS Asshof tentang seruan jihad, maka dengan serta merta Hanzhalah langsung keluar dan bergabung dengan para mujahid lainnya. Tak peduli dengan istri tercintanya, tak peduli dengan nikmatnya pengantin baru. Dan didalam perang berkecamuk, beliau ditaqdirkan syahid di jalan-Nya. Allahu Akbar.

Haru biru dan penuh tanya para sahabat, karena jasad Hanzhalah berbeda dengan syuhada yang lain. Hanzhalah syahid dengan keadaan basah kuyup, dimandikan para Malaikat karena sebelum berjihad beliau belum sempat mandi Junub.

Itulah contoh pada era ashabul awwalun yang lebih familiar sebagai masa “Khoerul Ummah” (Sebaik-baiknya Ummat)

Sedangkan pada contoh kontemporer, ust Shodiq mengajak menengok masa kejayaan Andalusia di Eropa Barat. Karena Alquran dijadikan Minhaajul hayyah, maka selama 800 tahun Islam pernah berjaya di negeri Sepanyol sekarang ini. Adalah Thoriq bin Jiyad, yang menaklukkan dan menguasai Andalusia hingga islam mewarnai segala sisi kehidupan disana.

Di bidang teknologi, di Andalusia ada masjid di bilangan Cordova yang menerapkan teknologiAKUSTIK, dimana kecanggihannya sangat spektakuler yaitu dengan tanpa pengeras suara, orang yang paling pojok sekalipun dapat mendengar khotib yang berada di depan. Luar biasa di masa lampau tapi sudah ada teknologi maha karya sebagus itu.

Beberapa cendekiawan muslim besar telah tergores dengan tinta emas di sepanjang zaman dan menjadi peletak pondasi kebangkitan barat di kemudian hari. Namun hal itu tinggal kenangan, karena kemudian masyarakat Andalusia lupa dan melupakan Alquran. Ditambah masuknya Ghozwul Fikri yang diantaranya berupa alat musik “Gitar” yang merambah ke seantero negeri Andalusia saat itu. Dan menghipnotis masyarakat menjadi menyenangi alat musik ini. Yang sampai hari ini gitar trbaik adalah Gitar Sepanyol. Keadaan ini membuat Andalusia lambat laun menjadi hancur dan Islam hanya sebagai kebanggaan muslimin di masa lalu.

Ustadz yang saat ini berada di jajaran PUI Jabar ini, juga menyitir ungkapan salah seorang orientalis barat yang jujur, yang mengatakan, “Andai saja Thoriq bin Jiyad saat itu bisa menaklukkan bukan Eropa Barat saja, tapi seluruh daratan Eropa, maka sudah dipastikan, bahwa ilmu dan Teknologi saat ini, sudah maju 5 abad dibandingkan dengan sekarang”.

Hampir delapan abad lamanya Islam berkuasa di Andalusia sejak tahun 711 M hingga berakhirnya kekuasaan Islam di Granada pada tanggal 2 Januari 1492 M. Menyadari tentang jatuhnya keemasan Islam seperti itu, ustadz Shodiq merasakan kekhawatirannya kalau hal ini terjadi di Indonesia. Karena muslim di sini, sudah mirip dengan masa kejatuhannya Andalusia atau spanyol.
Di Indonesia, Alquran sudah beralih fungsi, hanya sebagai hiasan belaka dan sudah langka mentadhaburi. Ada juga yang mau membaca Alquran hanya
disaat ada kematian saja.

Agar Alquran tetap eksis di dada kita, maka ada 4 aktivitas yang harus dilakukan seorang Muslim.

1. Qiroah, dawam membaca Alquran.
2. Mentadabburi Alquran
3. Tafa’ul : melaksanakan Alquran
4. Adda’wah : mendakwahkan Alquran.

Dalam prakteknya, selalu saja ada penghalang mendakwahkannya. Oleh karenanya, setidaknya harus mengetahui dulu alasan para sahabat, sehingga tanpa beban melakukannya.
Mengapa para sahabat selalu bersegera dalam memdakwahkan Alquran ?
1. Mereka tahu kemuliaan tentang Alquran,
2. Mereka tahu dakwah berat, tapi hasilnya membentuk khoerul ummah
3. Mereka tahu kalau pahala dakwah itu besar.

Di akhir tausiyahnya Ustadz M. Shodiq memberikan tips berdakwah, agar dalam mendakwahkan Alquran, yang paling utama adalah kita harus pernah melakukannya. Jangan sampai kita menyuruh berbuat kebaikan tapi tak pernah melakukannya.

Sebagai contoh beliau bertutur, bahwa pada suatu ketika ada ulama besar bernama Hasan Al-Basri. Ulama besar ini diundang para budak untuk ceramah, dengan tema yang dipesan mereka yaitu “Keutamaan Membebaskan Budak”.
Akan tetapi setiap ceramah, Hasan al-Basri belum.pernah berdakwah dengan tema yang dipesan para budak tersebut. Sehingga sempet menimbulkan kecurigaan. Baru setelah rutin berdakwah pada hitungan ke 4-bulan, baru ulama tersebut membawakan tema “Keutamaan Membebaskan Budak”.
Dan setelah dikonfirmasi, mengapa membawakan tema tersebut setelah sekian lama ?
ulama tersebut menjelaskan, bahwa “saya baru membebaskan budak setelah beberapa hari, makanya saya berani mendakwahkan karena sudah mengalaminya”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *